Hari pertama kita presentasi membahas tentang materi pengertian dasar dalam ekologi tumbuhan. Kelompok pertama terdiri dari Imam Fauzi Rohman dan Eko Achmad Pranoto, dengan moderator Hasan Ibrahim. Berikut terlebih dahulu penjelasan materi yang telah dipresentasikan.
Ekologi berasal dari dua kata dari bahasa Yunani yaitu eikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu. Dari kedua kata tersebut dapat kita artikan bahwa ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang urusan atau interaksi mahkluk hidup dalam lingkungan, puncak masalah dari ekologi tumbuhan adalah transfer energi. Dari pengertian tersebut kita juga bisa mengartikan ekologi tumbuhan, ekologi tumbuhan adalah ilmu pengetahuan yang secara spesifik mempelajari interaksi tumbuhan dengan lingkungannya, atau bisa juga diartikan sebagai ilmu yang membicarakan tentang spektrum hubungan timbal balik yang terdapat dalam lingkunganserta antara kelompok-kelompok tumbuhan. Banyak sekali tokoh yang mendefinisikan tentang arti dari ekologi tumbuhan, antara lain seperti Ernest Haeckle (1866), Eugene P. Odum (1963), Krebs (1972), dan Kendelgh (1980).
Berdasarkan keilmuan, ekologi dibagi menjadi dua macam yaitu sinekologi, yang mempelajari hubungan kelompok organisme terhadap lingkungan, serta outekologi yang mempelajari hubungan antara individu terhadap lingkungannya.
Dari pengertian di atas, dapat dibuat perbedaan antara sinekologi dan outekologi.
Sinekologi
- bersifat eksperimental
- induktif
- kuantitatif
- dapat dilakukan dengan perencanaan percobaan
Outekologi
- bersifat filosofis
- deduktif
- deskriptif
- sulit dilakukan dengan pendekatan
Dalam ekologi tumbuhan terdapat tiga aspek pokok antara lain agronomi, fisiologi tanaman, serta klimatologi pertanian. Selanjutnya ada juga aspek penerapan beserta dengan manfaat dari ekologi tumbuhan tersebut, seperti yang dijelaskan berikut.
· Pemanfaatan dalam bidang pertanian
- Mengontrol gulma
- Meningkatkan hasil panen
- Meningkatkan stabilitas panen
- Mengurangi serangan penyakit
- Mengurangi penggunaan pestisida
· Pemanfaatan dalam bidang kehutanan
- Mempertahankan keanekaragaman hayati
- Mempertahankan ekologi hutan yang stabil
- Pemanfaatan hasil hutan
· Pemanfaatan dalam bidang perairan
- Budidaya perairan
- Budidaya kelautan
- Pemanfaatan sumberdaya perairan
· Pemanfaatan dalam bidang perkotaan
- Membentuk kota yang asri
- Mengurangi suhu panas dalam kota
- Mengantisipasi adanya banjir
- Reboisasi
Setelah mengetahui materi yang disampaikan, ada beberapa pertanyaan dari teman-teman atau audiensi dalam diskusi tersebut. Pertanyaan pertama dari Khaniviyah yang menanyakan cara serta proses dalam mengontrol gulma agar tidak berlebihan dalam segi pertanian. Pertanyaan ini langsung ditanggapi oleh Fauzi, dia mengatakan bahwa hal ini terjadi pada segi pertanian organic, pembasmian gulma dengan menggunakan pestisida agar gulma tersebut dapat mati. Padahal pestisida adalah bahan anorganik. Eko menambahkan lagi bahwa dalam menanggulangi gulma terlebih dahulu kita harus mengetahui penyebab timbulnya gulma tersebut. Kemudian memberikan hal-hal yang tidak disukai oleh gulma agar tidak tmbuh lagi. Tapi menurut persepsi Eko, gulma itu sama artinya dengan insekta misalnya walang sangit. Oleh karena itu, ditambahkan oleh Nanik, bahwa gula itu hanya mencakup tumbuhan pengganggu saja, sedangkan insekta pengganggu itu lain lagi namanya. Untuk menanggulangi adanya gulma, dapat dilakukan dengan membiarkan tanaman yang telah ditanam tanpa air kurang lebih selama 1 minggu, agar biji atau benih gulma yang tertinggal di tanah dapat mati. Tambahan juga dating dari Yusron, pengendalian hama dapat dilakukan dengan membersihkan pematang sawah secara rutin. Sedangakan Tina member saran untuk membuat suatu penelitian zat alelopat pada tanaman yang menghasilkan zat toksin tersebut agar bisa digunakan sebagai alternatif dalam mengurangi penggunaan pestisida yang pada intinya bertujuan untuk menuju pada peningkatan stabilitas hasil panen.
Pertanyaan kedua dari Ulfah Hanum yang menanyakan tentang arti dari deskriptif, eksperimental, serta filosofis pada perbedaan antara sinekologi dan outekologi. Sayangnya pertanyaan ini belum sempat terjawab karena terbatasnya waktu.
Pertanyaan selanjutnya dari Martina Kurniarum. Yang menanyakan bagaimana cara mengelola hutan yang bertanggung jawab. Menurut Fauzi dapat dilakukan dengan memaksimalkan pengelola hutan agar bisa mengontrol penebangan hutan tidak rusak. Cara lainnya dengan melakukan reboisasi setelah melakukan penebangan agar tetap baik. Tapi Tina kurang setuju dengan pendapat tersebut, menurutnya pengelola hutan atau bisa juga disebut sebagai polisi hutan kurang efektif sebab jumlahnya yang tidak mencukupi untuk menjaga hutan Indonesia yang luas. Indah juga menyarankan untuk melakukan tebang pilih pada tumbuhan atau pohon yang sudah bisa dimanfaatkan secara maksimal. Eko juga menambahkan bahwa dapat dilakukan dengan membuat peta vegetasi, antara hutan yang tidak boleh dirusak (hutan lindung) serta hutan produksi atau produktif yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar agar tidak menjamah hutan lindung. Hutan produksi terletak disebelah luar dari hutan lindung dengan jara yang cukup jauh, agar saat masyarakat sekitar yang akan melakukan pindah lahan tidak sampai memasuki area hutan lindung. Menurut penjelasan, hutan lindung tersebut dalam bentuk taman nasional misalnya. Tina juga menaggapi bahwa peta vegetasi tersebut kurang efektif dalam pemanfaatannya sebab hutannya sempit, kemudian kalau tebang pilih itu berarti melegalkan adanya illegal logging. Jadi dapat disarankan bahwa edukasi tentang menjaga lingkungan itu juga penting dengan menggunakan metode secara audiovisual misalnya.
0 komentar:
Posting Komentar