Seperti halnya pada manusia, hewan sebenarnya juga memiliki perilaku-perilaku yang juga bisa dijadikan karakter pada hewan tersebut. Karakter dari perilaku yang ditunjukkan oleh hewan sebenarnya dapat digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah. Karakter dari perilaku tersebut berkaitan juga dengan psikologi, sebab bila diartikan psikologi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan hewan berdasarkan aspek-aspek perkembangan kelakuan, sensasi, persepsi, motivasi, proses belajar, emosi, kepribadian, basis biologis dari perilaku, intelejensi serta penyimpangan perilaku. Pada hewan sendiri, ilmu yang mempelajari tentang perilaku atau tingkah laku hewan beserta dengan mekanisme dan faktor-faktor penyebabnya dinamakan sebagai etologi. Etologi sendiri merupakan cabang dari ilmu zoology.
Perilaku atau tingkah laku khas yang ditunjukkan oleh hewan yang bisa dimasukkan pada konteks psikologi biasanya hanya berupa perilaku seksual, perilaku ketertarikan terhadap lawan jenis, perilaku terhadap lingkungan sekitar, serta perilaku terhadap kelompoknya. Psikologi pada makhluk hidup dipengaruhi oleh berbagai hal, misalnya saja karena adanya pengaruh lingkungan sekitar dan kelompok sosial dimana makhluk tersebut berada. Misalnya saja interaksi sosial yang terjadi pada induk dan keturunan pada hewan selama dalam periode kritis yang merupakan kunci utama bagi perkembangan perilaku pada hewan tersebut. Selain itu, juga ada pula karena kebutuhan biologis antara induk dan keturunannya yang merangsang hubungan antar keduanya.
Banyak sekali contoh yang ditunjukkan oleh hewan yang menunjukkan psikologi mereka yang telah diteliti oleh para ilmuwan. Salah satunya oleh Konrad Lorenz ilmuwan asal Jerman. Beliau adalah penerima penghargaan Nobel tahun 1973 atas keberhasilannya dalam mengembangkan teori etologi modern bersama dengan Nikolas Tinbergen. Salah satu penemuan Lorenz dalam bidang biologi adalah temuannya mengenai konsep imprinting pada hewan. Sebelum menemukan konsep itu, Lorenz melakukan percobaan pada angsa-angsa yang dia jadikan sebagai bahan penelitian. Lorenz memelihara telur angsa sampai angsa tersebut menetas. Begitu telur angsa itu menetas, angsa tersebut menganggap bahwa Lorenz merupakan induknya, sebab obyek yang angsa lihat pertama kali adalah Lorenz. Lorenz dan angsa tersebut saling berinteraksi layaknya induk dan anak, jadi kemanapun Lorenz pergi maka angsa-angsa tersebut akan mengikuti dibelakangnya.
Contoh lain pada konsep imprinting yang ada pada saat ini adalah yang terjadi di Banyuwangi. Induk ayam yang sedang bertelur, kemudian telurnya diganti oleh telur-telur bebek, tanpa disadari oleh sang induk, akhirnya telur-telur bebek tersebut menetas dan hasilnya pun sama dengan yang ditunjukkan oleh penelitian dari Lorenz. Anak-anak bebek yang telah menetas juga menganggap bahwa ayam tersebut adalah induknya, sebab ayam tersebutlah yang mereka lihat saat pertama kali keluar dari cangkang. Sehingga kemanapun induk ayam itu pergi, bebek-bebek kecil tersebut mengikuti di belakangnya.
Jadi ketika suatu hewan menjadi dewasa, perilaku mereka akan memperoleh pengaruh dari kelompok sosial atau lingkungannya. Proses ini disebut sebagai imprinting (men-cap) yang juga sering dikenal sebagai salah satu bentuk belajar pada hewan. Pada peristiwa filial imprinting, pengaruh sosial terjadi dari dua induk (orang tua) dan keturunannya. Hubungan antara induk dan keturunan itu biasanya lebih dari sekedar hanya hubungan makanan, meskipun keduanya juga akan mempengaruhi lingkungan sosialnya. Bila sang keturunan kehilangan kontak sosial dengan induknya, maka itu akan mempengaruhi pertumbuhannya menjadi tidak normal. Semakin besar perasaan kehilangan pada sang bayi, maka akan lebih besar pula kelainan yang akan ada pada diri bayi tersebut dalam perilaku sosial ketika hidupnya semakin tumbuh menjadi anak-anak dan dewasa.
Selain filial imprinting, ada juga yang dikenal sebagai sexual imprinting. Sexual imprinting adalah proses-proses yang dipelajari oleh individu untuk mengarahkan perilaku seksualnya dalam kelompok spesiesnya. Pada penelitian cross-fostering (ibu asuh) yang dilakukan dimana suatu individu dibesarkan oleh orang tua atau induk yang berbeda dari individu tersebut, memperlihatkan bahwa imprintingnya juga akan muncul pada awal-awal kehidupannya. Pada kebanyakan spesies burung, penelitian ini telah menunjukkan bahwa burung yang perkembangannya diasuh oleh orang tua atau induk lain, pada saat dewasa nantinya dia akan mencoba kawin dengan anggota spesies induk yang mengasuhnya (foster-spesies).
Tingkah laku lain yang ditunjukkan oleh hewan selain imprinting juga dapat diamati. Misalnya saja adalah perilaku hewan-hewan yang membutuhkan bermain dalam hidupnya. Dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, kucing suka bermain-main dengan obyek yang bisa bergerak-gerak yang itu membuatnya sangat menarik. Sama halnya dengan manusia pada saat masih dalam masa anak-anak yang suka bermain-main. Begitu pula dengan hewan misalnya kucing, anjing ataupun monyet. Ada juga dari subphylum lain yaitu dari reptil. Kura-kura bercangkang lembut Nil bernama Pigface yang ada di Kebun Binatang National, Washington DC. Penelitian itu dilakukan oleh seorang profesor psikologi di Universitas Tennessee, Knoxville bernama Gordon Burghardt. Setelah sekian tahun meneliti perilaku bayi dan remaja reptil, tidak ada dalam pemikirannya bahwa reptil juga bisa bermain. Temuannya tersebut tanpa dia sengaja, ketika suatu waktu dia melihat kura-kura bercangkang lembut Nil tersebut memukul-mukul bola basket.
Burghardt menjadi salah satu peneliti pertama yang mengungkapkan definisi tentang bermain pada manusia dan juga pada hewan pada spesies yang tidak pernah diduga sebelumnya namun hewan tersebut mampu untuk bermain. Hewan-hewan tersebut antara lain seperti ikan, reptil, serta invertebrata. Burghardt juga menyoroti lima kriteria bermain yang kemudian diringkasnya kelima kriteria tersebut dalam satu kalimat yang mengungkapkan bahwa, bermain adalah perilaku berulang yang tidak sepenuhnya fungsional dalam konteks atau dalam usia, yang mana hal ini dikerjakan dan dimulai secara sukarela ketika hewan atau orang dalam keadaan santai atau stress rendah. Kelima kriteria bermain yang diungkap oleh Burghardt terdapat dalam artikelnya yang berjudul “Resess” yang kemudian topik dalam artikel tersebut dimunculkan dalam buku yang berjudul “The Genesis of Animal Play – Testing the Limits”.
Menurut Burghardt, pada hewan kita dapat mengevaluasi lebih cermat peran bermain dalam pembelajaran keterampilan, menjaga kebugaran fisik dan mental, meningkatkan hubungan sosial dan seterusnya daripada yang kita bisa dalam masyarakat. Dengan lebih akurat mengkarakterisasi bermain dan mengamati seluruh kerajaan hewan, maka manusia lebih bisa memahami diri mereka sendiri.
Penelitian Burghardt telah mengilustrasikan bagaimana bermain telah tertanam dalam biologi spesies, termasuk di dalam otak hewan tersebut. Bermain juga merupakan salah satu psikologi hewan yang termasuk di dalamnya seperti emosi, motivasi, persepsi, dan kecerdasan, yang merupakan bagian dari sejarah evolusi mereka dan bukan hanya perilaku acak yang tidak berarti bagi hewan itu sendiri. Bermain merupakan bagian integral dari kehidupan dan dapat membuat hidup suatu makhluk menjadi berharga.
Penyebab utama dari perilaku atau tingkah laku yang ditunjukkan oleh hewan itu sendiri dipengaruhi juga oleh faktor hormonal. Hormon mempunyai pengaruh penting terhadap tingkah laku reproduksi dan sosial. Perilaku lain seperti perilaku territorial atau menjaga daerah kekuasaanya dan dominansi juga dipengaruhi atau berhubungan dengan hormon. Sehingga untuk mengendalikan perilaku-perilaku tersebut hormon harus dilepaskan atau dikeluarkan ketika kondisi lingkungan sangat menunjang untuk pertumbuhan. Selain itu hormon juga dapat berhubungan dengan neurotransmitter yaitu untuk mengubah perilaku pada hewan tersebut.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi hewan sebenarnya dapat kita ketahui melalui perilaku-perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupannya. Perilaku hewan-hewan dipengaruhi oleh adanya faktor-faktor lingkungan dan kelompok sosialnya yang menjadikan peristiwa imprinting bagi hewan. Selain itu juga karena adanya kebutuhan biologis antara induk dan keturunannya yang dapat merangsang hubungan antara induk dan keturunannya dalam masa awal kehidupan. Serta faktor utama yang berasal dari dalam hewan itu sendiri yang melibatkan sistem hormon yang ada pada tubuh hewan. Akan tetapi perubahan hormonal juga akan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan juga kondisi fisiologi hewan itu sendiri. Dengan mengetahui kondisi psikologi yang ada pada hewan diharapkan kita untuk bisa memahami segala kebutuhan-kebutuhan hewan tersebut agar kita bisa melestarikan atau menjaga kelangsungan hidup hewan-hewan tersebut, sebab hewan juga merupakan makhluk hidup yang diciptakan Allah SWT sama seperti kita, manusia.
“Untuk memenuhi tugas 2 Ekologi Hewan Biologi UMM”
Dosen pengampu mata kuliah Ekologi Hewan Husamah, S.Pd.
Contoh Imprinting pada Induk Ayam dan Anak Bebek.