Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Pengikut

My Playlist

Quien cocina aquí:

Foto Saya
HanumZ aii
Hanum adalah salah satu mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan Biologi di Kampus Putih, University of Muhammadiyah Malang. bersama teman-teman yang lain mencoba untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan selama menimba ilmu di sini.
Lihat profil lengkapku

Archivo del Blog

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format

Jumat, 09 Maret 2012

ANIMAL PSICOLOGY

Seperti halnya pada manusia, hewan sebenarnya juga memiliki perilaku-perilaku yang juga bisa dijadikan karakter pada hewan tersebut. Karakter dari perilaku yang ditunjukkan oleh hewan sebenarnya dapat digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah. Karakter dari perilaku tersebut berkaitan juga dengan psikologi, sebab bila diartikan psikologi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan hewan berdasarkan aspek-aspek perkembangan kelakuan, sensasi, persepsi, motivasi, proses belajar, emosi, kepribadian, basis biologis dari perilaku, intelejensi serta penyimpangan perilaku. Pada hewan sendiri, ilmu yang mempelajari tentang perilaku atau tingkah laku hewan beserta dengan mekanisme dan faktor-faktor penyebabnya dinamakan sebagai etologi. Etologi sendiri merupakan cabang dari ilmu zoology.
Perilaku atau tingkah laku khas yang ditunjukkan oleh hewan yang bisa dimasukkan pada konteks psikologi biasanya hanya berupa perilaku seksual, perilaku ketertarikan terhadap lawan jenis, perilaku terhadap lingkungan sekitar, serta perilaku terhadap kelompoknya. Psikologi pada makhluk hidup dipengaruhi oleh berbagai hal, misalnya saja karena adanya pengaruh lingkungan sekitar dan kelompok sosial dimana makhluk tersebut berada. Misalnya saja interaksi sosial yang terjadi pada induk dan keturunan pada hewan selama dalam periode kritis yang merupakan kunci utama bagi perkembangan perilaku pada hewan tersebut. Selain itu, juga ada pula karena kebutuhan biologis antara induk dan keturunannya yang merangsang hubungan antar keduanya.
Banyak sekali contoh yang ditunjukkan oleh hewan yang menunjukkan psikologi mereka yang telah diteliti oleh para ilmuwan. Salah satunya oleh Konrad Lorenz ilmuwan asal Jerman. Beliau adalah penerima penghargaan Nobel tahun 1973 atas keberhasilannya dalam mengembangkan teori etologi modern bersama dengan Nikolas Tinbergen. Salah satu penemuan Lorenz dalam bidang biologi adalah temuannya mengenai konsep imprinting pada hewan. Sebelum menemukan konsep itu, Lorenz melakukan percobaan pada angsa-angsa yang dia jadikan sebagai bahan penelitian. Lorenz memelihara telur angsa sampai angsa tersebut menetas. Begitu telur angsa itu menetas, angsa tersebut menganggap bahwa Lorenz merupakan induknya, sebab obyek yang angsa lihat pertama kali adalah Lorenz. Lorenz dan angsa tersebut saling berinteraksi layaknya induk dan anak, jadi kemanapun Lorenz pergi maka angsa-angsa tersebut akan mengikuti dibelakangnya.
Contoh lain pada konsep imprinting yang ada pada saat ini adalah yang terjadi di Banyuwangi. Induk ayam yang sedang bertelur, kemudian telurnya diganti oleh telur-telur bebek, tanpa disadari oleh sang induk, akhirnya telur-telur bebek tersebut menetas dan hasilnya pun sama dengan yang ditunjukkan oleh penelitian dari Lorenz. Anak-anak bebek yang telah menetas juga menganggap bahwa ayam tersebut adalah induknya, sebab ayam tersebutlah yang mereka lihat saat pertama kali keluar dari cangkang. Sehingga kemanapun induk ayam itu pergi, bebek-bebek kecil tersebut mengikuti di belakangnya.
Jadi ketika suatu hewan menjadi dewasa, perilaku mereka akan memperoleh pengaruh dari kelompok sosial atau lingkungannya. Proses ini disebut sebagai imprinting (men-cap) yang juga sering dikenal sebagai salah satu bentuk belajar pada hewan. Pada peristiwa filial imprinting, pengaruh sosial terjadi dari dua induk (orang tua) dan keturunannya. Hubungan antara induk dan keturunan itu biasanya lebih dari sekedar hanya hubungan makanan, meskipun keduanya juga akan mempengaruhi lingkungan sosialnya. Bila sang keturunan kehilangan kontak sosial  dengan induknya, maka itu akan mempengaruhi pertumbuhannya menjadi tidak normal. Semakin besar perasaan kehilangan pada sang bayi, maka akan lebih besar pula kelainan yang akan ada pada diri bayi tersebut dalam perilaku sosial ketika hidupnya semakin tumbuh menjadi anak-anak dan dewasa.
Selain filial imprinting, ada juga yang dikenal sebagai sexual imprinting. Sexual imprinting adalah proses-proses yang dipelajari oleh individu untuk mengarahkan perilaku seksualnya dalam kelompok spesiesnya. Pada penelitian cross-fostering (ibu asuh) yang dilakukan dimana suatu individu dibesarkan oleh orang tua atau induk yang berbeda dari individu tersebut, memperlihatkan bahwa imprintingnya juga akan muncul pada awal-awal kehidupannya. Pada kebanyakan spesies burung, penelitian ini telah menunjukkan bahwa burung yang perkembangannya diasuh oleh orang tua atau induk lain, pada saat dewasa nantinya dia akan mencoba kawin dengan anggota spesies induk yang mengasuhnya (foster-spesies).
Tingkah laku lain yang ditunjukkan oleh hewan selain imprinting juga dapat diamati. Misalnya saja adalah perilaku hewan-hewan yang membutuhkan bermain dalam hidupnya. Dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, kucing suka bermain-main dengan obyek yang bisa bergerak-gerak yang itu membuatnya sangat menarik. Sama halnya dengan manusia pada saat masih dalam masa anak-anak yang suka bermain-main. Begitu pula dengan hewan misalnya kucing, anjing ataupun monyet. Ada juga dari subphylum lain yaitu dari reptil. Kura-kura bercangkang lembut Nil bernama Pigface yang ada di Kebun Binatang National, Washington DC. Penelitian itu dilakukan oleh seorang profesor psikologi di Universitas Tennessee, Knoxville bernama Gordon Burghardt. Setelah sekian tahun meneliti perilaku bayi dan remaja reptil, tidak ada dalam pemikirannya bahwa reptil juga bisa bermain. Temuannya tersebut tanpa dia sengaja, ketika suatu waktu dia melihat kura-kura bercangkang lembut Nil tersebut memukul-mukul bola basket.
Burghardt menjadi salah satu peneliti pertama yang mengungkapkan definisi tentang bermain pada manusia dan juga pada hewan pada spesies yang tidak pernah diduga sebelumnya namun hewan tersebut mampu untuk bermain. Hewan-hewan tersebut antara lain seperti ikan, reptil, serta invertebrata. Burghardt juga menyoroti lima kriteria bermain yang kemudian diringkasnya kelima kriteria tersebut dalam satu kalimat yang mengungkapkan bahwa, bermain adalah perilaku berulang yang tidak sepenuhnya fungsional dalam konteks atau dalam usia, yang mana hal ini dikerjakan dan dimulai secara sukarela ketika hewan atau orang dalam keadaan santai atau stress rendah. Kelima kriteria bermain yang diungkap oleh Burghardt terdapat dalam artikelnya yang berjudul “Resess” yang kemudian topik dalam artikel tersebut dimunculkan dalam buku yang berjudul “The Genesis of Animal Play – Testing the Limits”.
Menurut Burghardt, pada hewan kita dapat mengevaluasi lebih cermat peran bermain dalam pembelajaran keterampilan, menjaga kebugaran fisik dan mental, meningkatkan hubungan sosial dan seterusnya daripada yang kita bisa dalam masyarakat. Dengan lebih akurat mengkarakterisasi bermain dan mengamati seluruh kerajaan hewan, maka manusia lebih bisa memahami diri mereka sendiri.
Penelitian Burghardt telah mengilustrasikan bagaimana bermain telah tertanam dalam biologi spesies, termasuk di dalam otak hewan tersebut. Bermain juga merupakan salah satu psikologi hewan yang termasuk di dalamnya seperti emosi, motivasi, persepsi, dan kecerdasan, yang merupakan bagian dari sejarah evolusi mereka dan bukan hanya perilaku acak yang tidak berarti bagi hewan itu sendiri. Bermain merupakan bagian integral dari kehidupan dan dapat membuat hidup suatu makhluk menjadi berharga.
Penyebab utama dari perilaku atau tingkah laku yang ditunjukkan oleh hewan itu sendiri dipengaruhi juga oleh faktor hormonal. Hormon mempunyai pengaruh penting terhadap tingkah laku reproduksi dan sosial. Perilaku lain seperti perilaku territorial atau menjaga daerah kekuasaanya dan dominansi juga dipengaruhi atau berhubungan dengan hormon. Sehingga untuk mengendalikan perilaku-perilaku tersebut hormon harus dilepaskan atau dikeluarkan ketika kondisi lingkungan sangat menunjang untuk pertumbuhan. Selain itu hormon juga dapat berhubungan dengan neurotransmitter yaitu untuk mengubah perilaku pada hewan tersebut.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi hewan sebenarnya dapat kita ketahui melalui perilaku-perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupannya. Perilaku hewan-hewan dipengaruhi oleh adanya faktor-faktor lingkungan dan kelompok sosialnya yang menjadikan peristiwa imprinting bagi hewan. Selain itu juga karena adanya kebutuhan biologis antara induk dan keturunannya yang dapat merangsang hubungan antara induk dan keturunannya dalam masa awal kehidupan. Serta faktor utama yang berasal dari dalam hewan itu sendiri yang melibatkan sistem hormon yang ada pada tubuh hewan. Akan tetapi perubahan hormonal juga akan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan juga kondisi fisiologi hewan itu sendiri. Dengan mengetahui kondisi psikologi yang ada pada hewan diharapkan kita untuk bisa memahami segala kebutuhan-kebutuhan hewan tersebut agar kita bisa melestarikan atau menjaga kelangsungan hidup hewan-hewan tersebut, sebab hewan juga merupakan makhluk hidup yang diciptakan Allah SWT sama seperti kita, manusia.
“Untuk memenuhi tugas 2 Ekologi Hewan Biologi UMM”
Dosen pengampu mata kuliah Ekologi Hewan Husamah, S.Pd.
Contoh Imprinting pada Induk Ayam dan Anak Bebek.

read more...

Rabu, 04 Januari 2012

METODE ANALISIS VEGETASI


Minggu ini kelompok kedua yang presentasi adalah kelompok 8, yang anggotanya terdiri dari Qorry Aulya Rohmana, Septy Yustian, dan Dias Rentika, dengan moderator Alib Suryaningsih. Menyampaikan materi makalah tentang Metode Analisis Vegetasi,
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Analisis vegetasi adalah suatu studi untuk mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi. Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi, antara lain:
1.        Pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda.
2.        Menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal.
3.        Melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan.
Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi, antara lain:
·         Paku-pakuan
·         Pemanjat (climber)
·         Palma (palm)
·         Terna (herb)
·         Epifit (epiphyte)
·         Belukar (shrub)
·         Pohon (tree)
Tingkat pohon menurut tingkat permudaannya ada tiga macam, yaitu semai (Seedling), pancang (sapling), dan tiang (poles). Parameter vegetasi yang diukur dilapangan secara langsung terdiri dari:
1.  Nama jenis.
2.  Jumlah individu setiap jenis.
3.  Penutupan tajuk.
4.  Diameter batang.
5.  Tinggi pohon.
            Metode Analisis Vegetasi ada 4 macam, antara lain:
·         Metode destruktif, untuk memahami jumlah materi organik yang dapat dihasilkan oleh suatu komunitas tumbuhan, untuk bentuk bentuk vegetasi yang sederhana, sangat membantu dalam menentukan kualitas suatu padang rumput.
·             Metode nondestruktif, dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu penelaahan organisme hidup atau tumbuhan tidak didasarkan pada taksonominya, penelaahan organisme tumbuhan secara taksonomi.
·                 Metode non-floristica, yaitu vegetasi berdasarkan bentuk hidupnya, jadi pembagian dunia tumbuhan secara taksonomi sama sekali diabaikan, mereka membuat klasifikasi tersendiri dengan dasar-dasar tertentu.
·        Metode floristic, yaitu penelaahan dilakukan terhadap semua populasi spesies pembentuk masyarakat tumbuhan tersebut, sehingga pemahaman dari setiap jenis tumbuhan secara taksonomi adalah sangat dibutuhkan.
Metode pencuplikan ada 5 macam, yaitu:
  •    Metode kuadrat, bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Ukuran tersebut bervariasi dari 1 dm2 sampai 100 m2. Analisisnya dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi .
  •       Metode garis, suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaannya pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Analisisnya melalui variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi , menentukan INP.
  •       Metode titik, suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Analisisnya dengan variabel kerapatan, dominansi, dan frekuensi , dan INP.
  •       Metode kuarter, analisa vegetasi yang mana dalam pelaksanaannya tidak menggunakan plot atau area sebagai alat bantu. Pada metode ini tumbuhan yang dianalisa bisa berupa empat tumbuhan yang paling dekat dengan titik pengamatan.
  •      Metode teknik ordinasi, Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu. Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan.
Peta vegetasi ada 2 macam, yaitu pemetaan daerah dengan mencari jarak dan sudut dan pemetaan komunitas tumbuhan dari satu titik konstan. Membuat kurva luas minimum ada dua macam, antara lain menentukan luas minimum dan membuat kurva luas minimum. Parameter pengamatan dalam analisis vegetasi ada yang secara kualitatif dan ada juga yang secara kualitatif. Parameter kualitatif terdiri dari:
Ø                 Fisiognomi
Ø                 Fenologi
Ø                 Periodisitas
Ø                 Stratifikasi
Ø                 Kelimpahan
Ø                 Penyebaran
Ø                 Daya hidup
Ø                 Bentuk pertumbuhan
Sedangkan parameter kuantitatif terdiri dari:
v                   Densitas,
v                   Frekuensi,
v                   Penutupan,
v                   Dominansi,
v                    INP, INP = KR + FR +C

       Penyampaikan materi oleh presenter sangatlah baik, penjelasannya sangat runtut dan detail, sehingga audience sangat mudah memahami materi yang disampaikan. Setelah penyampaian materi dilakukan sesi tanya jawab bagi para audience yang masih belum memahami materi yang diberikan. Pertanyaan pertama dari Risma Ekawati, yang meminta contoh dari semai, pancang, tiang, dan terna. Jawabannya semai merupakan permudaan dari kecambah anakannya kurang dari 1,5 meter, contohnya tumbuhan yang masih kecil. Pancang adalah permudaan dengan tinggi 1,5 meter diameter anakannya 10 cm, contohnya adalah ceres. Tiang merupakan pohon muda dengan diameter 10 cm sampai 20 cm, contohnya adalah mangga dan jati. Sedangkan terna merupakan tumbuhan herbal seperti sirih.
         Pertanyaan kedua dari Khaniviah yang menanyakan contoh dari dominansi, pertanyaannya dijawab oleh Dias Rentika, menurutnya dominansi adalah penguasaan suatu spesies yang sering muncul. Tapi contoh yang diberikan salah, sehingga dibenarkan oleh Pak Husamah. Yang initinya mencari 3 macam dominansi, yaitu Ds, Dm, dan Dr, setelah itu baru mencari Dtot setelah mendapatkan Dtot yang terakhir baru mencari Drj. Dari rumus-rumus tersebut kita dapat memperoleh contoh dominansi.
         Pertanyaan selanjutnya dari Hasan Ibrahim, metode destruktif untuk memahami jumlah materi organik yang dihasilkan komunitas, maksudnya itu apa? Menurut pemateri, materi organik merupakan berat biomassa, contohnya berat daun, luas basah atau kering. Mereka kurang bisa dalam menjawab, kemudian ditambahkan jawabannya oleh Pak Husamah, destruktif itu artinya merusak obyek yang diteliti contohnya seperti di padang rumput. Dalam satu petak biomassanya, berat basah atau keringnya berapa, dari perbedaan itu bisa ditentukan baik tidaknya, sehingga lebih sederhana perlakuannya. Tambahan pertanyaan dari Yulius Susanto, dalam membuat kurva, yang dihitung pohon tertentu atau semua pohon. Jawabannya tergantung dari jenis yang diamati.
         Kelompok ini saat awal penyampaian materi sangatlah bagus, tapi pada saat menjawab pertanyaan mereka seperti kurang memahaminya, entah karena pertanyaannya yang sulit, atau karena materi yang belum terkuasai dengan baik. Sehingga kebanyakan pertanyaan yang diberikan kepada mereka perlu ditambahkan oleh Pak Husamah agar audience dapat mendapat jawaban yang memuaskan dan benar. Semoga dalam presentasi selanjutnya lebih baik lagi.
           
read more...

SUKSESI

Kelompok terakhir yang melakukan presentasi makalah Ekologi Tumbuhan yaitu kelompok 12 yang anggotanya terdiri dari Indah Sulistyaningrum dan Yusron Aminullah. Dengan dimoderatori oleh Eko Achmad Pranoto. Materi yang disampaikan kurang lebih sebagai berikut.
Suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Faktor-faktor yang mempengaruhi suksesi antara lain iklim, topografi, dan biotik. Suksesi terdiri dari 6 macam, antara lain:
·         Suksesi primer, terjadi pada tempat-tempat yang baru terbentuk, misalnya abu vulkanik yang belum mempengaruhi biotik apapun. Suksesi primer ini terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru.
·         Suksesi sekunder, terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat seperti sebelumnya.
·         Suksesi autogenik, terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat seperti sebelumnya.
·         Suksesi allogenik, lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam variabel-variabel lingkungan ekstrinsik dari pada keberadaan organisme-organisme.
·         Suksesi autotropik, disebut autotrofik, bila jaring-jaring makanan bergantung pada organisme fotosintetik.
·         Suksesi heterotropik, pada suksesi ini, jaring-jaring makanan bergantung pada pembentukan bahan-bahan organik. Hal ini ditandai oleh dominasi awal organisme seperti bakteri, jamur, actinomycetes dan hewan. 
Tahap-tahap dalam suksesi antara lain:
  1. Tahap Kolonisasi
Tahap awal dari suksesi adalah kolonisasi, selama tahap tersebut habitat yang kosong dipenuhi oleh organisme-organisme.
2. Tahap Modifikasi Tempat
Dari tahap kolonisasi, organisme-organisme yang berdiam di suatu daerah akan mengubah sifat-sifat tempat tersebut.
3. Tahap peningkatan Variabilitas Ruang
Tahap berikut dari modifikasi tempat adalah peningkatan variabilitas ruang (spasial) habitat.
Klimaks merupakan fase kematangan yang final, stabil memelihara diri dan berproduksi sendiri dari suatu perkembangan vegetasi dalam suatu iklim. Pendapat konsep klimaks menurut Clements, suksesi dimulai dari kondisi lingkungan yang berbeda,  tetapi akhirnya punya klimaks yang sama. Klimaks hanya dapat dicapai dengan kondisi iklim tertentu, sehingga klimaks dengan iklim itu saling berhubungan. Dan kemudian klimaks ini disebut klimaks klimatik. Setiap kelompok vegetasi masing-masing mempunyai klimaks.
Suksesi memiliki beberapa tipe, antara lain:
§  Hidrosere, merupakan tipe suksesi yang berkembang di daerah (habitat) perairan yang biasanya disebut Hidrarch. Vegetasi yang sering berganti dalam hidrarch disebut hidrosere. Tipe suksesi ini tidak memerlukan komunitas aquatik untuk menuju ke perkembangan komunitas daratan.
§  Xerosere, merupakan Suksesi vegetasi yang berkembang dalam daerah xerik atau kering, biasanya disebut xerarch. Ada dua macam yaitu: Psammosere yaitu suksesi vegetasi yang dimulai pada daerah berpasir. Lithosere yaitu suksesi vegatasi yang dimulai pada batuan.
Proses suksesi menurut Clement yaitu nudasi, invasi, kompetisi dan reaksi, serta stabilitas dan klimaks. Pendekatan suksesi dengan menggunakan pendekatan eksperimental, karena dilihat pendekatan ini memberikan harapan yang paling realistis untuk tidak mengacaukan proses-proses dan mekanisme-mekanisme suksesional.

Penyaji dalam menyampaikan materi terkesan kurang ekspresif sebab pemateri terkesan hanya sekedar membaca saja, baik materi yang ada pada power point maupun dari makalahnya. Setelah penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama dari intan yang menanyakan penyebab dari suksesi itu sendiri apa. Menurut kelompok mereka yang diwakilkan oleh Yusron, suksesi terjadi secara alami maupun buatan. Secara alami tidak adacampur tangan dari manusia, seperti longsor, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan lain-lain. Sedangkan yang secara buatan bisa diakibatkan oleh campur tangan manusia, seperti penebangan pohon, pertambangan, dan lain-lain.
Pertanyaan kedua dari Hasan, yang menanyakan bagaimana cara menanggulangi faktor-faktor penghambat suksesi agar suksesi itu sendiri tidak terhambat. Anggota kelompok 12 tidak bisa menjawab pertanyaan dari Hasan sehingga dibantu oleh Pak Husamah. Misalnya pada lahan terbuka, awalnya pada musim kemarau tidak ada tumbuhan yang bisa hidup, setelah musim penghujan daerah tersebut kadar airnya terpenuhi begitu juga dengan unsur haranya sehingga tumbuhan dengan mudah tumbuh. Faktor lainnya adalah topografi, bisa lahan datar maupun datar berbukit. Hal ini tergantung dari jenis suksesinya, pada lahan yang habis dibakar maupun lahan yang habis ditambang, maka suksesi yang lebih cepat terjadi adalah pada lahan yang terbakar sebab struktur tanahnya masih utuh hanya saja bagian permukaannya yang hilang, sedangkan lahan yang ditambang, struktur tanahnya sudah berubah, sehingga sulit bahkan tidak mungkin terjadi suksesi lagi.
Pertanyaan selanjutnya dari Lutfidah Irmalia yang menanyakan perbedaan nudasi dan inavasi. Seperti yang dikatakan oleh Indah, nudasi adalah proses pembentukan suatu daerah yang disebabkan oleh alam, sedangkan invasi merupakan berpindah tempat, sehingga perlu berada[tasi dengan tempat tersebut. Tambahan dari Pak Husamah, bahwa nudasi adalah proses terbentuknya alam oleh berbagai faktor. Sedangkan invasi baru mulai masuk spesies baru, dimulai dari tumbuhan biji atau lumut, yang lama-kelamaan tumbuh rumput, semak belukar, dan lain-lain. Kemudian terjadi kompetisi dengan dimulainya tumbuh spesies baru. Setelah itu terjadi stabilitas, yaitu lahan tersebut mulai tertutupi oleh tumbuhan-tumbuhan sehingga sampai klimaks dan kembali seperti semula, dan ini semua memerlukan waktu yang relatif lama.
Pertanyaan dari Fauzi yang menanyakan waktu terjadinya suksesi dijawab oleh Pak Husamah, yaitu tidak dapat dihitung serta tergantung dari jenis kerusakannya untuk kembali ke bentuk semula. Pertanyaan selanjutnya dari Syaiful Bahrul, dari sekian banyak suksesi, suksesi apakah yang paling baik dalam membentuk ekosistem. Menurut Indah adalah suksesi primer, sebab tumbuhan lumut kerak yang bisa menghasilkan unsur hara yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan lain. Tapi menurut Pak Husamah lahan yang terbuka pasti semua mengalami suksesi primer, jadi tergantung dari jenis kerusakannya.
Tambahan pertanyaan dari Qorry Auliya, pada suksesi allogenik terdapat lingkungan ekstrinsik, itu terdiri dari apa saja. Menurut Indah bisa berupa air, angin, dan lain-lain. Misalnya pada hutan dataran rendah yang terendam karena naiknnya air tanah. Pertanyaan lainnya awal terjadinya suksesi itu bagaimana, tapi pertanyaan ini tidak dapat dijawab. Pertanyaan tambahan lagi dari Hasan. Pada tempat pertambangan yang suhu dan daerahnya rusak, bagaimana meminimalisir keadaan tersebut agar suksesi dapat berjalan dengan lancar. Menurut Pak Husamah, dalam peraturan perundangan-undangan sudah dijelaskan, bahwa daerah pertambangan tersebut harus ditutup dengan menggunakan pasir, sebab sudah tidak dapat terjadi suksesi lagi. Tapi pada kenyataannya para pengusaha tambang menolak hal tersebut, karena bila bila ditutp lagi dengan pasir pasti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit lagi. Namun bila tetap dibiarkan, maka dapat menimbulkan longsor, timbul berbagai macam penyakit di sekitar daerah tersebut, dan lain-lain.
Secara keseluruhan, presentasi kelompok ini cukup baik. Hanya seja mereka seperti kurang mendalami materi yang disampaikan. Bisa dilihat dari jawaban yang diberikan dari pertanyaan-pertanyaan audience. Mereka sangat kurang menjawab, yang akhirnya dibantu oleh Pak Husamah. Seharusnya mereka sebagai kelompok terakhir harus lebih mendalami dan memahami materinya lagi, sebab waktu mereka juga relatif lama. Semoga untuk mata kuliah selanjutnya mereka juga teman-teman di kelas lebih baik lagi.

read more...

EKOSISTEM AQUATIK

          Kelompok selanjutnya yang mempresentasikan makalahnya adalah kelompok 11 yang anggotanya terdiri dari Layli Hijri, Lutfidah Irmalia, dan Syaiful Bahrul Alam dengan dimoderatori oleh Yusron Aminullah. Sesi pertama yaitu penyampaian materi oleh penyaji.
            Ekosistem aquatik merupakan ekosistem dimana lingkungan eksternal merupakan hubungan makhluk hidup yang ada pada daerah perairan. Ekosistem aquatik terdiri dari beberapa macam, antara lain:
·         Hutan Pantai. Hutan pantai merupakan hutan yang terbentuk akibat hempasan gelombang dan hembusan angin dari pantai yang membentuk gundukan pasir ke arah daratan. Hutan pantai berdasarkan susunan vegetasinya dibagi menjadi 2 formasi, yaitu Formasi Pescaprae dan Formasi Barringtonia.
·         Rawa. Rawa merupakan lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat. Rawa terbagi menjadi 3 macam jenis, yaitu hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, dan rawa tanpa hutan.
·         Mangrove. Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi mayoritas pesisir pantai di daerah tropis dan sub tropis. Hutan mangrove dapat berfungsi secara ekologis dan secara ekonomi. Ciri-ciri hutan mangrove adalah:
a.       Tajuknya rata dan rapat
b.      Sistem perakaran pneumatofor
c.       Jenis pohon berdaun
d.      Tanahnya tergenang air terus menerus
e.       Tumbuh menggerombol di tempat luas.
f.       Dapat bertoleransi terhadap kondisi alam
·         Ekosistem Air Tawar. Ekosistem air tawar ada 2 macam, yaitu:
a.       Lentik. Airnya tidak berarus, ini berarti airnya tidak mengalir. Contohnya : Danau, rawa air tawar, kolam, rawa gambut.
b.      Lotik. Airnya berarus, berarti airnya senantiasa mengalir. Contohnya : Sungai, dan selokan.
·         Ekosistem Pantai. Ekosistem pantai ada tiga macam, yaitu pantai karang, pantai berpasir, dan pantai berlumpur.
·         Estuaria. Estuaria merupakan suatu badan air pantai setengah tertutup yang berhubungan langsung dengan laut terbuka yang sangat terpengarh dengan gerakan pasang surut.
·         Terumbu Karang. Terumbu karang merupakan organisme yang hidup di dasar perairan laut dangkal terutama di daerah tropis yang disusun oleh karang-karang jenis anthozoa dari kelas Scleractinia. Tipe-tipe terumbu karang ada tuga macam, yaitu terumbu karang tepi, terumbu karang penghalang, dan terumbu karang cincin.
·         Ekosistem Laut. Ekosistem laut dibagi menjadi 2 macam, antara lain:
a.       Ekosistem laut pelagis, merupakan ekosistem laut yang tidak dekat dengan bagian bawah atau dekat pantai dapat dikatakan berada dalam zona pelagis.
b.      Ekosistem laut dalam, merupakan habitat paling luas di muka bumi ini dan punya kedalaman antara 700-10000 meter.
·         Bentos. Bentos terbagi menjadi 2 macam, yaitu:
a.     Bentos benting benua, merupakan hewan laut yang hidup di dasar laut pada suatu benua. Contohnya yaitu kerang, bulu babi, dan bintang laut.
b.    Bentos laut dalam, merupakan hewan laut yang hidup di dasar laut. Contoh: teripang, kerang-kerangan, anemon laut, dan cacing.
Materi yang disampaikan oleh kelompok 11 ini cukup bagus, cara penyampaiannya pun juga bagus. Sesi kedua setelah penyampaian materi adalah sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama dari Alib yang menanyakan karakteristik dari laut dalam. Karakteristiknya yaitu memiliki kedalaman 700 – 10.000 m, tidak terjangkau oleh sinar matahari, tingkat kegelapannya total, suhunya dingin, tekanan udara tinggi, serta tambahan dari Pak Husamah, tanpa adanya produsen yang bersifat autotrof, yang ada hanya hewan-hewan predator saja.
Pertanyaan kedua dari Eko Achmad, yang menanyakan terumbu karang itu apa serta terbuat dari apa. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Pak Husamah. Terumbu karang berasal dari dua kata, yaitu terumbu dan karang. Terumbu merupakan hasil simbiosis dari alga dengan organisme tertento dari jenis Anthozoa. Sedangkan karang merupakan produk dari terumbu tersebut berupa batu, dalam bentuk kalsium karbonat yang dapat digunakan sebagai alat penggosok. Alga tersebut berguna untuk menangkap atom C dan H, sedangkan Anthozoa yang membuat karangnya. Bila alga dan Anthozoanya mati, maka karang akan menjadi putih, pemutihan karang (blacing) terjadi karena adanya faktor suhu, pestisida, bahan peledak, pukat harimau, maupun putas. Terumbu karang banyak terdapat di Indonesia, sebab Indonesia suhunya stabil, lama penyinaran sinar matahari juga stabil, sehingga ini membuat terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan Indonesia.
Pertanyaan selanjutnya dari Ayu Puspita, antara lentik dan lotik, unsur hara yang paling banyak itu terdapat dimana. Menurut yang disampaikan oleh Syaiful, unsur hara terbanyak terdapat pada lentik, sebab pada lentik airnya itu tenang, tidak berarus dan tidak mengalir. Pertanyaan berikutnya dari Susi yang juga dijawab oleh Syaiful, penjelasan lebih rinci dari ekosistem pelagis. Merupakan laut terbuka, dianggap sebagai kolam laut yang menempati zona pelagis dengan kedalaman rata-rata 3,68 km dan maksimal 11 km dari pantai.
Pertanyaan terakhir dari Intan yang dijawab oleh Lutfidah, biota yang paling banyak hidup di ekosistem pantai apa? Menurut Lutfidah pada pantai karang, karena ada batuan sedimen disana karena aktivitas biologi sehingga banyak biota karang. Sedangkan pada pantai pasir hanya ada tumbuhan seperti kangkung atau perdu.
Secara keseluruhan, presentasi kelompok 11 berjalan dengan lancar, penyampaian materi dan jawaban yang diberikan kepada audience juga cukup memuaskan, meskipun ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab serta ditambahkan oleh Pak Husamah, karena mereka tidak bisa menjawab dengan baik. Semoga presentasi yang lainnya berjalan dengan baik dan lancar pula.

read more...

EKOSISTEM DARAT ATAU TERRESTRIAL

Kelompok 10 yang mempresentasikan hasil makalahnya, anggotanya terdiri dari Susi Susila, Alib Suryaningsih, dan Mirna Maharyuning. Akan tetapi Mirna tidak dapat mengikuti presentasi sebab dia menghilang beberapa hari ini. Dengan dimoderatori oleh Martina Kurniarum. Yang pertama yaitu penyampaian materi kurang lebih seperti berikut ini.
Ekosistem adalah komunitas organik yang terdiri atas tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme bersama lingkungan fisik dan kimia tempat hidup atau habitatnya. Bagian dari ekosistem darat, antara lain:
·         Hutan Hujan Tropis. Hutan hujan tropis merupakan salah satu tipe vegetasi hutan tertua yang telah menutupi banyak lahan. Tipe hutan hujan tropis menurut ketinggian tempatnya dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Zona 1: hutan hujan bawah terletak pada ketinggian tempat 0 - 1.000 m dari permukaan laut.
b. Zona 2: hutan hujan tengah terletak pada ketinggian tempat 1.000 - 3.300 m dari permukaan laut.
c. Zona 3: huan hujan atas terletak pada ketinggian tempat 3.300 - 4.100 m dari permukaan laut.
·         Hutan Musiman Tropis. Hutan musim tropis terdiri atas pepohonan yang menggugurkan daunnya pada musim kemarau. Karakteristik dari hutan tersebut antara lain:
a.       Tumbuhan membentuk formasi musiman.
b.      Tumbuhan umumnya tahan dari kekeringan.
c.       Pada musim kemarau daunnya merandas. sebaliknya pada musim penghujan daunnya lebat.
d.      Hutan musim biasa diberi nama sesuai dengan spesies tumbuhan yang dominan.
·         Hutan Gugur Daun Temperata. Hutan temperata atau hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang yang memiliki empat musim. Saat musim panas, gugur, dingin, dan musim semi.
·         Hutan Temperata Evergreen. Hutan temperata evergreen adalah hutan yang terdiri seluruhnya atau terutama dari pohon cemara yang mempertahankan dedaunan hijau sepanjang tahun.
·         Hutan Evergreen Campuran. Paku Pohon hampir serupa dengan paku yang tumbuh jutaan tahun yang lalu. Ek Holm memiliki daun yang berlilin dan liat. Kowhai tumbuh subur di sisi pegunungan dan ke bawah sampai permukaan laut. Beech Bagian Selatan merupakan kelompok dari 35-40 spesies pohon yang seluruhnya ditemukan di belahan bumi selatan. Lumut memberi kesan bahwa lantai hutan yang ditumbuhinya lembab.
·         Hutan Taiga. Taiga adalah hutan pohon pinus dengan daun-daun seperti jarum. Ciri-ciri dari bioma hutan taiga antara lain:
a.       Pertumbuhan tanaman terjadi pada musim panas yang berlangsung antara 3 sampai 6 bulan.
b.      Flora khasnya adalah pohon berdaun jarum/pohon konifer, contoh pohon konifer adalah Pinus merkusii (pinus).
c.       Fauna yang terdapat di daerah ini adalah beruang hitam, ajak, srigala dan burung-burung yang bermigrasi ke daerah tropis bila musim dingin tiba.
d.      Perbedaan antara suhu musim panas dan musim dingin cukup tinggi.
·         Hutan Boreal. Hutan boreal berkembang di daerah lintang tinggi dekat dengan kawasan lingkar kutub dan ditumbuhi oleh jenis pohon berdaun jarum, dimana di kawasan ini memiliki musim panas yang pendek dan musim dingin yang panjang. Ciri-ciri dari hutan boreal yaitu:
a.       Mempunyai musim dingin yang cukup panjang dan musim kemarau yang panas dan sangat singkat.
b.      Jenis tumbuhan yang hidup sangat sedikit, biasanya hanya terdiri dari dua atau tiga jenis tumbuhan.
·         Hutan Kayu Alfin. Hutan Alfin di altitudes tinggi sekitar 500 m di atas permukaan laut di Pulau Utara dan 300 m di Pulau Selatan, tumbuh di hutan dataran rendah yang disebabkan oleh iklim dan angin.
·         Hutan Tropis Daun Lebar. Hutan hujan tropis bentuknya yang paling megah dan rapat (suhu selalu ≥ 5°C, curah hujan 1800-2000 mm/th, kelembaban udara selalu tinggi ≥ 80%).
·         Tundra. Tundra berasal dari bahasa Finlandia yang berarti daerah terbuka tidak berhutan yang kemudian dipakai untuk menggambarkan semua bentuk vegetasi yang tidak ada pohonnya pada garis lintang yang tinggi. Fungsi ekosistem tundra yaitu produktivitas, rantai makanan, siklus nutrisi, dan air. Ciri-ciri bioma tundra antara lain:
a.       Hampir semua wilayahnya tertutup oleh salju/es.
b.      Memiliki musim dingin yang panjang dan gelap serta musim panas yang panjang dan terang.
c.       Usia tumbuh tanaman sangat pendek.
·         Hutan Savanna. Savanna adalah hamparan rumput yang luas dan tempat dimana bermacam ekosistem berkumpul untuk saling berinteraksi (berupa simbiosis dan rantai makanan). Ciri khas dari hutan savanna seperti padang rumput, tumbuhan agel, lontar, bambu duri, dan semak belukar. Proses terbentuknya hutan savanna yaitu:
a.       Strata rumput yang jelas dan merata yang diinterupsi pohon dan semak
b.      Kehadiran api dan hewan perumput;
c.       Pola pertumbuhan komponen biotik ditentukan oleh pergantian di antara musim basah dan musim kering.
·         Padang Pasir. Padang pasir adalah suatu daerah yang menerima curah hujan yang sedikit kurang dari 250 mm per tahun. Ciri umumnya yaitu:
a.       Iklim yang keras merupakan faktor pembatas dan penentu terhadap masa pertumbuhan.
b.      Komunitas umumnya terbuka.
c.       Produktivitas primer rendah.
d.      Tanah kurang masak.
e.       Ekosistem padang pasir tidak stabil.
·         Zona Arid atau Kering. Kekeringan yang ekstrim biasanya berada di pedalaman kontinental ataupun dekat pantai barat pada garis lintang 300 C dari katulistiwa.
·         Padang Rumput. Padang rumput merupakan lapangan yang dipenuhi oleh rumput dan tanaman tak berkayu. Dipotong untuk jerami atau dinamakan oleh ternak, domba atau kambing.

Penyampaian materi oleh para penyaji lumayan bagus, hanya saja mereka terlalu terpaku pada materi yang disampaikan lewat power point tanpa adanya penambahan-penambahan lain yang bisa menguatkan materi yang mereka sampaikan. Setelah penyampaian materi, dibuka sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama dari Layli, yang menanyakan kondisi ekologi dari hutan hujan tropis. Menurut yang disampaikan oleh Alib, biasanya wilayahnya tropis, curah hujan tiap tahun minimal berkisar antara 1.700 mm – 2.000 mm, suhu bulanannya di atas 18OC sepanjang tahun, tumbuh di dataran rendah yaitu 1.200 m di atas permukaan air laut di tanah yang subur. Misalnya berada di Asia, Australia, Kepulauan Pasifik, Amerika Tengah, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Pertanyaan kedua yaitu dari Yessi Hermawati. Untuk kondisi ekologis dari padang pasir itu sendiri seperti apa, dia minta untuk dijelaskan. Dijawab oleh Susi, iklimnya itu keras, komunitas terbuka, komposisi komunitas bervariasi sehingga menimbulkan habitat yang berbeda-beda, produktivitas primer rendah sehingga rantai makanannya pendek. Biomassa yang rendah, tanah kurang subur karena tidak ada bahan organik. Ekosistem stabil karena laju produktivitasnya bervariasi. Tumbuhan yang bisa tumbuh seperti kurma ataupun kaktus.
Pertanyaan selanjutnya dari Risma Ekawati. Pada bioma tundra, tumbuhan berusia pendek itu yang seperti apa, dan berapa lama dapat bertahan hidup. Menurut Susi, tumbuhannya itu seperti lumut kerak, rumput teki, tumbuhan terna atau herbal, atau semak-semak. Tumbuhan tersebut dapat bertahan hidup kurang lebih antara 30 – 120 hari atau 1 – 4 bulan.
Pertanyaan berikutnya dari Nuris Widowati. Formasi musiman yang dibentuk tumbuhan itu bagaimana. Menurut penjelasan Alib, hutannya bisa hidup dimusim formasi musiman, bila kemarau akan menggugurkan daunnya, dan bila musim penghujan maka daunnya akan tetap lebat.
Pertanyaan terakhir dari Hasan Ibrahim. Siklus nutrisi di bioma tundra itu bagaimana. Pertanyaannya dijawab oleh Alib, tundra termasuk hutan yang kekurangan nutrisi, penguraiannya berjalan lambat karena suhunya rendah dan adanya genanggan air. sampah daun saja membutuhkan waktu 3 tahun untuk menjadi humus.
Secara keseluruhan, presentasi kali ini berjalan cukup baik. Penyampaian materi lumayan baik. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh audience dapat dijawab dengan baik dan lancar, dan pastinya jawabannya dapat memuaskan para ausience. Untuk kelompok selanjutnya semoga lebih baik lagi, dan untuk kelompok ini lebih ditingkatkan lagi kemampuannya dalam berpresentasi.
read more...

EKOSISTEM

         Kelompok selanjutnya yang presentasi yaitu kelompok kesembilan yang terdiri dari Martina Kurniarum dan Nurus Widowati, sedangkan yang bertindak sebagai moderator pada kelompok ini adalah Alib Suryaningsih dari kelompok 10. Diawali dengan penyampaian materi oleh Nuris Widowati.
         Menurut Undang-Undang Lingkungan Hidup pada 1982, ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Dalam ekosistem terdapat dua macam sistem yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka adalah sistem di mana energi dan materi menyebrang perbatasan sistem. Sedangkan sistem tertutup adalah sistem yang ditandai dengan tidak adanya energi lain yang mempengaruhi. Dalam ekosistem ada istilah steady state yaitu adanya kecenderungan berada dalam satu kondisi yang seimbang dan dinamis, contohnya bila dalam suatu hutan ada singa dan dan bison yang saling mempertahankan populasi spesiesnya agar tidak punah.
            Struktur dan fungsi kompleks dari ekosistem itu ada lima macam, antara lain:
·         Lingkungan abiotik
·         Lingkungan biotik
·         Produsen
·         Konsumen
·         Pengurai
Dalam ekosistem juga ada aliran energi yang berasal dari semua makhluk hidup mulai dari tumbuhan, hewan, manusia, sampai pengurai. Inti dari aliran energi ini sama dengan rantai-rantai makanan. Ada yang bertindak sebagai produsen, yaitu tumbuhan, sebagai konsumen, mulai dari tingkat satu sampai tingkat tertinggi, dan yang terakhir yaitu pengurai atau dekomposer, biasanya berupa makhluk mikroskopis bisa berupa bakteri, jamur, dan lain-lain.
Siklus biogeokimia dalam ekosistem merupakan penggabungan teknik dari biologi, geografi, dan kimia yang memanfaatkan daur dari oksigen dan karbon dioksida. Produktivitas primer menunjukkan jumlah energi cahaya yang diubah. Sedangkan daya dukung adalah kemampuan suatu tempat dalam menunjang kehidupan. Ada beberapa metode dalam menentukan produktivitas primer, yaitu:
·         Metode panen atau metode penuaian
·         Metode pengukuran oksigen
·         Metode pengukuran CO2
·         Metode penentuan klorofil
·         Metode hilangnya bahan-bahan mentah
Berikut ini contoh produksi di berbagai ekosistem, produktivitas primer bersih pada beberapa ekotropik.
No.
Jenis Ekotropik
Rata-rata Produksi Bersih (g/m2/th)
1.
Hutan hujan
2.000 – 2.200
2.
Hutan yang menggugurkan daun
1.600
3.
Savana
700 - 900
4.
Gurun Pasir
100
 (Vickery, 1984)

            Setelah penyampaian materi oleh Martina dan Nuris, kini saatnya untuk sesi tanya jawab. Pada kelompok ini hanya ada dua pertanyaan saja, yaitu dari Syaiful Bahrul Alam dan Ulfah Hanum. Pertanyaan pertama dari Syaiful yang menanyakan dalam aliran energi apakah mungkin salah satu komponen penbentuk aliran energi itu bisa hilang, dan seandainya itu bisa hilang, apakah dampak atau akibat yang ditimbulkan? Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Nuris, kompunen dari aliran energi itu tidak akan dan tidak bisa hilang. Kalaupun mati, itu akan bisa menjadi fosil, dan fosil itu dikemudian hari bisa menjadi pupuk. Jadi intinya itu, komponen aliran energi itu tidak bisa hilang akan tetapi hanya bisa berkurang saja. Bila sampai ada yang terputus, aliran energi itu akan tetap ada hanya saja pindah ke yang lainnya. Misalnya saja komodo yang ada di Pulau Komodo, mereka makanannya misalnya ayam hutan liar, bila suatu saat ayam hutan itu habis atau punah, maka komodo akan beradaptasi dengan lingkungannnya yang baru tanpa adanya ayam hutan yang liar. Hal ini terjadi karena komodo juga tetap harus mempertahankan populasinya agar tidak ikut punah atau terjadi ketidakseimbangan.
            Pertanyaan kedua dari Ulfah Hanum, yang menanyakan dalam metode penentuan primer produktivitas apakah saling berkaitan atau hanya digunakan salah satu saja. Menurut kelompok mereka yang diwakilkan berbicara oleh Martina, jawabannya adalah iya. Sebab jumlah atau intensitas oksigen dan karbon dioksida sangat berpengaruh pada fotosintesis yang juga membutuhkan klorofil  yang juga ikut mempengaruhi hasil panen dan bahan mineral yang dihasilkan. Tapi dari beberapa metode yang ada, tetap juga bisa dipakai salah satu saja, akan tetapi akan menjadi lebih baik lagi bila dipakai secara bersama-sama atau berkaitan.
            Secara keseluruhan kelompok ini sangat bagus dalam menyampaikan materi serta menjawab semua pertanyaan dari teman-teman. Power point yang digunakan juga cukup menarik dan mudah dipahami. Untuk kelompok selanjutnya bisa seperti kelompok sembilan ini, dan bisa lebih baik lagi dalam presentasi.
read more...

KOMUNITAS (VEGETASI)

Kelompok 7 yang anggotanya terdiri dari Khaniviyah dan Purri Rahayu, dengan dimoderatori oleh Dias Rentika mempresentasikan makalah yang berjudul Komunitas (Vegetasi). Diawali dengan penyampaian materi oleh Purri Rahayu, kemudian dilanjutkan oleh Khaniviyah. Materinya kurang lebih seperti berikut ini.
Komunitas secara umum adalah kumpulan populasi makhluk hidup yang saling berinteraksi dan tinggal di suatu habitat. Ada beberapa konsep dasar dalam komunitas, yaitu:
a.       Formasi tumbuhan, merupakan hasil makroklimat dan ini dikendalikan dan ditentukan batasnya oleh iklim saja.
b.      Assosiasi, merupakan vegetasi regional, dalam formasi ini merupakan klimaks sub iklim dalam formasi umum.
c.       Ekotone, merupakan peralihan antara dua atau lebih komunitas yang berbeda.
Dalam komunitas terdapat 4 macam interaksi, yaitu:
·         Interaksi antar organisme, contohnya parasitisme, komensalisme, mutualisme, dan lain-lain.
·         Interaksi antar populasi, contohnya alelopati, kompetisi, dan lain-lain.
·         Interaksi antar komunitas, contohnya komunitas sungai dan komunitas sawah.
·         Interaksi antar komponen biotik dan abiotok., contohnya tumbuhan yang membutuhkan cahaya matahari dalam proses fotosintetik untuk mempertahankan hidupnya.
Karakteristik komunitas dalam tumbuhan antara lain, parameter komunitas yang bersifat kuantitatif, seperti kekayaan spesies, keaneragaman spesies, dan kelimpahan. Parameter yang bersifat kualitatif, seperti tingkatan trofik, bentuk, dan karakter hidup. Keanekaragaman ada tiga macam, yaitu kelimpahan relatif, struktur trofik, dan bentuk dan karakter hidup.
Struktur komunitas adalah suatu deskripsi atau pertelaan tentang masyarakat tumbuhan yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi lingkungan dan distribusi nutrien di habitatnya. Komposisi vegetasi adalah daftar jenis-jenis tumbuhan yang ada dalam suatu komunitas di suatu daerah. Dua pandangan komposisi komunitas yang berlawanan, yaitu pandangan individualisme dan pandangan organisme. Parameter vegetasi yang umum diukur yaitu dengan :
1. Densitas (kerapatan),
2. Dominansi,
3. Frekuensi (kekerapan),
4. Indeks Nilai Penting (INP).

Secara keseluruhan, penyampaian materi yang dilakukan oleh Purri dan Khaniviyah sangatlah menarik untuk diperhatikan. Hanya saja, dalam menyampaiakan materi mereka seperti kurang memahami apa yang mereka sampaikan. Mereka hanya membaca materi yang ada di power point atau di makalah, tanpa ada penjelasan lain yang lebih rinci. Semoga untuk pemateri berikutnya yang akan presentasi lebih baik dari yang sekarang.

Setelah penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan materi yang kurang dimengerti. Pertanyaan pertama dari Alib Suryaningsih yang meminta penjelasan lebih lanjut mengenai ppandangan komposisi komunitas yang berlawanan yang terdiri dari pandangan organisme dan pandangan individualisme. Menurut Purri dari sumber yang didapat, pandangan organisme adalah suatu komunitas yang dianggap sebagai super, bahwa tumbuhan dianggap mampu melakukan reproduksi secara fungsional. Sedangkan pandangan individualisme yang dikembangkan oleh seorang ahli menekankan bahwa suatu komunitas tidak perlu mencapai suatu komposisi yang seharusnya. Jawaban yang disampaikan oleh Purri masih membuat bingung, jadi audience meminta poin-poin atau contohnya saja yang singkat. Menurut Khaniviyah, intinya itu pandangan organisme menekankan hanya pada komunitas saja, sedangkan pada pandangan individualisme lebih menekankan hanya pada spesiesnya saja.
Pertanyaan kedua dari Layli Hijri, yang masih membingungkan hal-hal apasaja yang mendasari sehingga adanya 2 pandangan komposisi komunitas yang saling berlawanan. Menurut Khaniviyah, hal tersebut dapat terjadi karena banyaknya tanggapan setiap spesies terhadap kondisi fisika, kimia, maupun biotik. Jawaban lainnya yang diberikan bisa juga terhadap spesies dan komunitas sehingga timbul kedua pandangan tersebut. Layli masih bingung dengan kondisi fisika dan kimia yang sebelumnya disampaikan oleh Khaniviyah. Akan tetapi Purri dan Khaniviyah belum bisa menjawabnya. Sampai berakhirnya waktu presentasi.
Dalam menjawab menyampaikan materi diawal presentasi maupun dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh audience, mereka terkesan kurang mendalami atau menguasai. Mereka juga seperti main-main kurang serius dalam menyampaikan materi. Jadi, para audience pun juga kurang bersemangat dalam memberikan pertanyaan maupun tanggapan. Diharapkan untuk kelompok ini pada presentasi berikutnya untuk lebih baik dan lebih memahami materi yang disampaikan, agar mereka di depan juga lebih dihargai.
read more...
 
 

Diseñado por: Compartidísimo
Scrapping elementos: Deliciouscraps©